Friday, July 15, 2016

Benturan antara NU dan Muhammadiyah

Koran Sindo, 15 Juli 2016

Selama ini keberadaan NU dan Muhammadiyah sering dianggap seperti dua sayap burung; jika satu tidak berfungsi, maka burung itu tidak akan bisa terbang sama sekali. Berbagai analisa (Pepinsky 2012; Carnegie 2013) juga menyebutkan bahwa transisi demokrasi di negara Muslim terbesar di dunia ini bisa berhasil karena peran dua ormas Islam ini dalam menyeimbangkan demokrasi; membendung kelompok Islamist dan mengerem laju sekularisme dan liberalisme . Beberapa tulisan bahkan menyebutkan hubungan kekerabatan dan pertemanan antara pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Dua slogan yang dikembangkan oleh dua gerakan itu, yakni "Islam Nusantara" dan "Islam Berkemajuan", juga dinilai saling melengkapi atau lebih tepatnya bisa disingkat menjadi "Islam Nusantara yang Berkemajuan".

Namun beberapa kasus yang terjadi belakangan ini seakan membuka mata bahwa dua organisasi itu kadang memandang satu sama lain bukan sebagai komplementari, yang masing-masing perlu ada untuk saling melengkapi, tapi lebih sebagai saingan jahat yang mesti dimusnahkan. Kasus Rumah Sakit Islam Purwokerto; pendirian fakultas kedokteran di perguruan tinggi yang berafiliasi kepada dua ormas itu; pemilihan rektor UIN Yogyakarta yang terefleksikan dalam hujatan keras dari Nurkholik Ridwan terhadap Buya Ahmad Syafii Maarif di media sosial; saling sikut dan tendang di beberapa kementerian, terutama di institusi-institusi dibawah kementerian agama; Saling kritik dan kecam mengenai Hari Santri; mengambil posisi yang saling berhadapan dalam kasus Siyono; saling meledek slogan "Islam Nusantara" dan "Islam Berkemajuan", sering tak kompromi dalam kasus hisab & ru’yah penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri, dan seterusnya. Yang lebih menyedihkan kedua organisasi itu kini memiliki banyak provokator yang suka memperkeruh suasana dan menari-menari ketika keduanya saling memusuhi.

Apakah fenomena ini merupakan kelanjutan dari penyebaran rasa benci terhadap orang lain yang mewabah pada sebagian masyarakat yang oleh Martin van Bruinessen (2013) disebut "Conservative Turn"? Apakah ini konsekuensi lanjutan yang tidak disadari ketika kita memulainya dengan membenci Ahmadiyah, dilanjutkan dengan permusuhan dengan Syi'ah, dan kemudian antara NU dan Muhammadiyah? Ataukan ini semacam sibling rivalry dalam keluarga Islam? Apakah ini sebagai kepanjangan dari politik nasional dan persaingan antar partai politik dan berimbas pada ranah organisasi massa?

Geneologi dari kompetisi dan persaingan antara NU dan Muhammadiyah memang telah dimulai sejak kedua organisai itu masih dalam bentuk embrio, ketika KH Ahmad Dahlan mulai memperkenalkan gagasan-gagasan keislamannya. Konflik pada periode awal sering disebut sebagai proses pembentukan ortodoksi (construction of orthodoxy), yaitu klaim sebagai yang paling benar dan absah dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Makanya, periode ini ditandai dengan sikap saling mengkafirkan antara NU dan Muhammadiyah. KH Ahmad Dahlan dituduh "Kristen Putih" dan kafir, sementara pengikut tradisi NU dituduh pengamal takhayul, bid'ah, dan khurafat. Konflik pada periode ini bisa dikatakan bersifat sektarian dan ideologis.

Meski isu ortodoksi ini tidak sepenuhnya hilang dan dalam beberapa kasus masih sering mengemuka kembali, namun pengikut kedua ormas ini lebih banyak memiliki kesadaran bahwa Muhammadiyah dan NU adalah sama-sama ortodok, yakni benar dan absah dalam Islam (sharing orthodoxy). Yang satu mengambil ortodoksi berdasarkan referensi kepada Al-Qur'an dan sunnah (orthodoxy based on scripture), sementara yang lain disebut ortodok karena mengacu kepada tradisi dan kitab yang selama ini banyak dipegangi oleh umat Islam (orthodoxy based on consensus).  

Setelah masa awal itu, kedua organisasi itu mengalami persaingan kembali ketika terjadi pembentukan Komite Hijaz dan Komite Khilafah tahun 1920an. Konflik ini merupakan gabungan antara isu pertarungan ideologi keislaman tertentu dan politik kekhilafahan; warna keislaman seperti apa yang diterapkan di dunia Islam, terutama di Mekah dan Madinah, dan siapa yang berhak mewakili dan mengatasnamakan umat Islam Indonesia. Konflik inilah yang menjadi pemicu utama pendirian NU secara resmi sebagai organisasi masyarakat tahun 1926.

Konflik kembali muncul dalam tubuh Partai Masyumi ketika Muhammadiyah menjadi anggota istimewa dan NU seperti tak terwakili meski merasa memiliki suara yang sangat besar. Warna politik lebih kental daripada isu ideologis dalam konflik antara NU dan Muhammadiyah tahun 1950 dan 1960an ini. Konflik inilah yang menjadi alasan pendirian Partai NU yang memisahkan diri dari Masyumi.  Rasa saling tidak suka antara sebagian warga NU dan Muhammadiyah kembali terungkit dalam kasus penurunan Gus Dur dari posisi presiden oleh MPR yang ketika itu dipimpin oleh Amien Rais. Setelah sebelumnya dua organisasi ini seperti bergandengan tangan dalam politik nasional dan mendukung Gus Dur menjadi presiden, tiba-tiba bersitegang dan seperti saling menjatuhkan.

Jika pada benturan sebelumnya banyak diwarnai isu ideologi dan politik, konflik yang sekarang ini terjadi antara dua ormas itu lebih banyak diwarnai oleh isu ekonomi; posisi presiden, jatah menteri, posisi rektor, fakultas kedokteran, aset rumah sakit, proyek Kemenag, dan seterusnya. Mana yang lebih parah dari berbagai konflik di atas? Hingga saat ini sepertinya tidak ada yang pernah membahas atau menuliskannya. Berbagai konflik itu selesai dengan sendirinya atau berkat kedewasaan warga dan pimpinan NU dan Muhammadiyah. Yang patut dikhawatirkan adalah jika berbagai benturan yang saat ini terjadi tak segera selesai atau bahkan sebaliknya terus berkembang. Apa yang awalnya merupakan perebutan harta benda bisa berubah  menjadi konflik sosial yang berbasis sektarianisme, seperti kasus Syi'ah Sampang.

Dua organisasi itu sama-sama gigih mengembangkan apa yang disebut sebagai ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Karena itu, harapannya, saling menyayangi, melindungi, dan mengasihi bisa terjadi pada tiga level tersebut; tidak hanya dengan umat yang berbeda agama dan negara, tapi juga yang seagama dan senegara.

AHMAD NAJIB BURHANI
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=0&date=2016-07-15


Thursday, June 30, 2016

Sehari Bertasawuf Modern

Baitul Arqam Pimpinan Universitas Muhammadiyah Prof. Hamka, Jakarta, 29-30 Juni 2016.






Download PPT

Saturday, April 23, 2016

Pidato dr Soetomo saat Resmikan RS Muhammadiyah Surabaya

KH Mas Mansur (x) di depan Poliklinik Muhammadiyah Surabaya di Jl Karang Tembok (foto: repro pwm jatim)
Ini Pidato Lengkap dr Soetomo saat Resmikan RS Muhammadiyah Surabaya
Penulis Redaksi -
April 22, 2016

PWMU.CO Persahabatan Muhammadiyah dengan Boedi Oetomo, merupakan salah satu kunci keberhasilan organisasi ini dalam melakukan pembaruan. Selain ikut membantu mengurus legalitas organisasi dari pemerintah kolonial, kedekatan keduanya juga terlihat dari Kongres Boedi Oetomo 1917 yang diselenggarakan di rumah pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Juga tidak sedikit tokoh Boedi Oetomo yang ikut memperkuat barisan Muhammadiyah, meski tidak menjadi anggota secara resmi.

Di Surabaya, dr Soetomo misalnya, salah satu pendiri organisasi Boedi Oetomo, juga banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah. Bersama koleganya, pahlawan Nasional ini mengelola Poliklinik Muhammadiyah di Sidodadi rumah nomor 57, tentu saja tanpa gaji. Poliklinik ini sendiri merupakan cikal bakal Rumah Sakit Muhammadiyah Surabaya yang sekarang berlokasi di Jl KH Mas Mansyur 180-182. Sebelum ke lokasi yang sekarang, RS ini pernah pindah di Jl Karangtembok, Pegirian (1925). Barulah pada tahun 1929 pindah ke lokasi yang sekarang, yang di sela-sela itu juga pernah bertempat sementara di Ampel Maghfur

Dalam pembukaan Poliklinik pada hari Ahad, 14 September 1924 itu, juga dihadiri oleh perwakilan Pengurus Besar Muhammadiyah Haji Soedja’ dan Ki Bagus Hadikoesoemo. Sementara, dr Soetomo, diamanahi untuk memberi sambutan kepada pada undangan sekaligus memperkenalkan pergerakan Muhammadiyah. Berikut petikan sambutan sosok yang namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yang didokumentasikan Suara Muhammadiyah. Meski ada naskah asli dengan ejaan lama, untuk mempermudah, pwmu.co menyesuaikannya dengan ejaan terkini.
***

Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan. Atas nama Perserikatan kita yang namanya Muhammadiyah, yakni untuk memperingati Nabi kita, Nabi Muhammad s.a.w, kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih untuk perhatian tuan-tuan, yang tampak pada hari ini.

dr Soetomo
Sebelum kami menerangkan maksud pertemuan yang sederhana ini dengan pendek, haraplah kami hendak menerangkan Perserikatan kami pada tuan-tuan. Perserikatan kami ini, sebagai juga perserikatan lainnja yang memang macam Jawa yang bertabi’at (bersifat) menjadikan dan memperbaiki lahirnya di tanah Vorstenlanden, yakni tempat yang orang Jawanja masih memegang kejawaannya.

Meskipun Perserikatan kami itu kelihatannya dan wujudnya ada berlainan dengan Perserikatan yang lainnya yang timbul di dunia pada waktu yang kurang lebih bersama-sama. Yakni Perserikatan kami ini ada bersifat Islam. Tetapi pada hakikatnya Persyarikatan kami itu tiada lain hanya satu dari beberapa pertunjuk lahirnya pikiran baru yang menggetarkan bahagian antero dunia yang berfikir. Lagi pula boleh dikatakan akan pertimbangan atau perlawanan pengajaran Darwin. Bukankah pengajaran Darwin itu berasas peperangan hidup?

Sudah tentu saja kejadiannya pengajaran ini menindas dan memusnahkan yang bersifat lembek. Karena bermaksud untuk diri sendiri supaya dalam dunia ini mendapat tempat yang baik. Sedang fikiran baru itu timbul dari asas yang lain. Yakni asas cinta kasih. Asas cinta kasih ini sudah barang tentu tiada mengizinkan, tiada memberi kesempatan, beberapa untuk keperluan diri sendiri. Akan tetapi mewajibkan berkurban untuk mencapai hidup mulia bagi umum.

Dan kalau begitu, apakah yang disebut cinta kasih pada orang tua, pada istri dan anak dan lainnya? Tiada lain hanyalah mengorbankan diri untuk keselamatan dan kebahagiaan orang lain.
Begitu juga perserikatan kami. Ini kemasakan (kentelan –Jawa) fikiran cinta kasih yang akan kita curahkan kepada sesama manusia supaya dengan cinta kasih dan kurban dapatlah tercapai hidup mulia yang kita maksud seperti yang tersebut di atas.

Kita mendirikan sekolahan. Kita ada mendirikan Hizbul – Wathan untuk memajukan badan kita. Anak yatim pun dapat pemeliharaan dari kita. Banyaklah jalan yang hendak kita jalani. Tetapi haruslah disebutkan di sini. Bahwa syarat kita ada sempit.

Besuk pagi akan kita buka Poliklinik ini. Siapa juga, baik orang Eropa, baik orang Jawa (orang bumi), baik China atau bangsa Arab, boleh kemari, akan ditolong dengan cuma-cuma, asalkan betul miskin. Kami mengharap tuan-tuan dan nyonya-nyonya, hendaknya luluslah poliklinik ini berdirinya, juga oleh bantuan tuan-tuan sekaliannya. Pekerjaan poliklinik yang penuh dengan kurban dan kemanusiaan. Lagi pula terutama adalah kami guntingkan berseru kepada pers (surat kabar) yang memang dapat menolong hal ini yang tiada berhingga.

Hari ini ialah hari bagi dokter-dokter yang bekerja pada poliklinik ini. Hari untuk peringatan bagi pekerjaannya yang berat akan penyediaan pekerjaan ini.

Bagi kita adalah hari ini hari terima kasih. Terima kasih kepada siapa juga yang menolong dengan bicara dan tenaga. Akan menyampaikan maksud kita itu. Pertama-tama terimakasih kami kepada Hoofdinspectur B.G.D (Pekerjaan pengobatan) dan Dr. Degger untuk pertolonganya dari negeri. Yang wujud obat-obat dan verbandmiddelen. Kedua terima kasih banyak kepada tuan Dr. Tamm, untuk fatwanya yang baik yang mengiringi surat permohonan kami. Begitu juga tuan Assenraad, kami merasa wajib mengucap terima kasih atas cara pencukupan obat-obat yang sebanyak itu dari simpanan tuan.

Nyonya-nyonya dan tuan-tuan, untuk penutup khutbah kami yang pendek ini, perizinkanlah kiranya kami memberi kehormatan kepada Zr. Matles yang sudah bekerja untuk kami susah payah dan cara kerja kapannya mengumpulkan orang untuk kami, dan juga untuk kecakapannya menyalakan da’wah (propaganda) bagi pekerjaan ini.

Nyonya Suratman. Tuanlah yang menghias poliklinik ini sehingga baik pada pemandangan. Jika nanti tamu-tamu kita sesudah menyaksikan melihat poliklinik ini dengan riang hati berangkat pulang, percayalah kami, bahwa keriangan hati itu tersebab dari tuan.
***

Atas peran Sutomo bersama 16 koleganya sesama dokter serta Muhammadiyah Surabaya dalam membangun poliklinik Muhammadiyah, maka sidang Pengurus Besar Muhammadiyah Yogyakarta memutuskan mengangkat Sutomo menyadi Medisch Adviseur Muhammadiyah bidang kesehatan. Salah satu kerja yang menjadi bagian dari Penolong Kesangsaraan Umum (PKO).

Dalam sambutan pidato yang disampaikan, dr Soetomo dan kawan-kawannya menyatakan kesanggupan untuk memberikan bantuan tenaga kepada PKU Muhammadiyah. Dokter-dokter itu antara lain dr Soetopo, dr Sardjono, dr Heerdjan, dr Soewarno, dr Soeratman, dr Soehardjo, dr Soerjatin, dr Soekardi, dr Irsan, dr Muwaladi, dr Saleh, dr Djojohusodo, dr J.W. Grootings, dr Aziz, dr P.H.F. Neynhoff, dr A.J.F. Tilung dan dr Rabain.

Para dokter itu memberikan bantuan tenaga menurut giliran waktu dan keahliannya. Kemudian dr Soedjono-lah yang dalam kesehariannya menjadi dokter tetap sesuai kesepakatan para dokter tersebut. Kira-kira 3,5 bulan setelah berdiri, Poliklinik ini telah memberikan pertolongan pengobatan 3.975-an pasien. (arkoun abqaraya)

Diambil dari:
http://www.pwmu.co/5223/2016/04/ini-pidato-lengkap-dr-soetomo-saat-resmikan-rs-muhammadiyah-surabaya.html
http://www.pwmu.co/5223/2016/04/ini-pidato-lengkap-dr-soetomo-saat-resmikan-rs-muhammadiyah-surabaya.html/2

Monday, April 4, 2016

Anti-Terrorism Cooperation between the National Agency for Contra Terrorism and Civil Society: Study Case of Muhammadiyah Disengagement


Indra Putri, Rima Sari. 2013. "Anti-Terrorism Cooperation between the National Agency for Contra Terrorism and Civil Society: Study Case of Muhammadiyah Disengagement". Journal of Defense Management. 02 (04). 

Rima Sari Indra Putri*
Alumni of Post Graduate Defense Management, Indonesian Defense University in Cooperation with Cranfield University England, UK
Corresponding Author :     Rima Sari Indra Putri
Muhammadiyah University of Sidoarjo
Indonesia
E-mail: arcrima2001@yahoo.com

Received July 12, 2012; Accepted October 11, 2012; Published November 29, 2012

Citation: Indra Putri RS (2012) Anti-Terrorism Cooperation Between The National Agency For Contra Terrorism and Civil Society: Study Case of Muhammadiyah Disengagement. J Def Manag 2: 111. doi: 10.4172/2167-0374.1000111

Abstract


This research is about anti-terrorism cooperation between the National Agency for Counterterrorism (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme/BNPT) and civil society, study case Muhammadiyah disengagement in the signing of Memorandum Of Understanding between BNPT and Islamic organizations in 2011. The theory applies are Terrorism, Security sector reform and Cooperation. As civil society, Muhammadiyah has conducted anti-terrorism efforts through its structural and cultural roles in politic, socio-economic, diplomatic and education aspect. Unfortunately, there has not been any framework of cooperation established between Muhammadiyah and BNPT, due to several hindering factors. Firstly, Muhammadiyah and BNPT have different perspective in addressing issues on terrorism and anti terrorism methodology. Secondly, political conflict. Thirdly, BNPT’s constraints in time, human resources and funding. Forthly, lack of BNPT’s political will. Actually, Muhammadiyah possess ideological and organisational potential that may facilitate the dissemination of anti terrorism more effective and efficient. Therefore, this study recommends the need for BNPT and Muhammadiyah to strengthen organisational commitment and to start building communication. In addition, the concept of deradicalization applied by BNPT needs to be evaluated and developed. This study is a qualitative research and using descriptive analysis method.

Download article

Sunday, March 27, 2016

Siapakah Drijowongso?

Diposting di Maret 26, 2016

Oleh : Mu’arif

Orang yang berkhidmat dalam Muhammadiyah ibarat bekerja dalam sunyi. Dalam kesunyian, ia tak butuh podium untuk menyampaikan gagasan. Juga tak perlu bendera (identitas kelompok) untuk menawarkan bantuan kepada orang lain. Ia pun laksana garam. Terasa asinnya tapi tak tampak wujudnya. Begitulah orang yang bekerja di belakang layar, menjadi sumber inspirasi dan sekaligus eksekutor gagasan di lapangan. Seperti halnya sosok Drijowongso dari Porong, Sidoarjo, ia bukanlah orang yang dikenal di kalangan Muhammadiyah, apalagi umat Islam di Hindia Belanda pada awal abad 21. Tetapi sosok Drijowongso adalah sekretaris Bagian PKO Muhammadiyah mendampingi Kyai Syuja’ (ketua). Barangkali yang luput dari perhatian para peneliti Muhammadiyah kini adalah latar belakang kehidupan Drijowongso.

Sosok Drijowongso adalah seorang buruh tani yang miskin asal Jawa Timur. Ia mengadu peruntungan nasib menjadi buruh tani tebu di Klaten. Anak dan istrinya ditinggalkan di Jawa Timur. Pandangan hidup Drijowongso sekuler, tetapi jiwanya selalu memberontak. Sudah bekerja keras di bawah tekanan para cukung Belanda, pendapatannya tak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya, apalagi untuk menghidupi anak dan istrinya. Terbakar semangat oleh bujukan Haji Misbach, para buruh tani tebu di Klaten berontak. Mereka melakukan pemogokan kerja secara massal pada sekitar tahun 1921. Drijowongso termasuk salah satu aktor di balik aksi pemogokan buruh tersebut. Kerugian besar ditanggung perusahaan milik para cukong kolonial. Akhirnya, buruh tani asal Porong tersebut ditangkap oleh tentara kolonial dan dijebloskan ke dalam penjara di Magelang selama satu setengah tahun.

Betapa sedih dan sengsara sosok Drijowongso selama di penjara. Anak dan istrinya tidak mendapat kiriman uang untuk membiayai hidup di kampung. Dalam keheningan di penjara, ia teringat pada sosok ulama modernis yang sangat murah hati. Teringat dalam pikirannya sebuah organisasi yang telah didirikan oleh ulama tersebut: Muhammadiyah.

Tampaknya, kemunculan sosok ulama modernis dari Kauman, Yogyakarta, sudah santer beredar di daerah Magelang. Bahkan, ulama tersebut juga mengajar di salah satu sekolah kolonial ternama di kota ini (OSVIA). Pandangan keagamaannya dinilai sangat maju. Apalagi, lahirnya gerakan Islam modern yang digagas oleh ulama modernis tersebut bertujuan untuk memajukan kaum pribumi. Drijowongso pun tertarik. Ia mengajukan permohonan kepada HB Muhammadiyah supaya berkenan menghidupi anak istrinya yang berada di Porong.

Haji Fachrodin (Soewara Moehammadijah no. 1/th ke-4/1922) mengisahkan, pada tanggal 20 November 1921, SI cabang Kediri mengundang HB Muhammadiyah Bagian Tabligh untuk menghadiri open bar vergadering di tempat tersebut. Utusan HB Muhammadiyah terdiri dari K.H. Ahmad Dahlan dan Haji Fachrodin. K.H. Ahmad Dahlan dan Haji Fachrodin diundang oleh SI cabang Kediri karena dalam struktur CSI, keduanya menjabat posisi teras. Dalam memenuhi undangan tersebut, HB Muhammadiyah mengajak Siti Moendjijah, adik kandung Haji Fachrodin yang menjadi salah satu santri putri KH. Ahmad Dahlan.

Dari Kediri, utusan HB Muhammadiyah melanjutkan kunjungan ke Sidoarjo. Pada tanggal 23 November 1921, utusan HB Muhammadiyah menjemput anak dan istri Drijowongso di Porong (Sidoarjo). Drijowongso memberikan kepercayaan kepada HB untuk menjaga, mendidik, dan menghidupi anak dan istrinya selama dia dalam penjara (Magelang).

Satu setengah tahun sudah lewat, Drijowongso baru saja keluar dari penjara di Magelang. Ia langsung menuju ke Yogyakarta, bermaksud menemui anak dan istrinya. Alangkah kagetnya dia sewaktu menemui anak dan istrinya. Sebelum dididik dan dibina oleh HB Muhammadiyah, anaknya masih kecil dan lugu. Kini, sang anak telah tumbuh besar, berpenampilan rapih, dan terdidik. Sang anak menyambut ayahnya dengan hormat lagi santun. Tutur katanya sangat sopan, berbeda jauh kondisinya ketika masih hidup di Porong. Begitu juga istri Drijowongso, lebih kelihatan rapih penampilannya, dan sangat sopan perilakunya. Anak dan istri Drijowongso seolah-olah pernah mengenyam pendidikan formal karena mereka memiliki wawasan yang luas, bahkan pengetahuan keagamaan yang memadai. Batin Drijowongso tersentuh. Ia merasa berhutang budi kepada Muhammadiyah. Pada hari itu juga, ia bertekad untuk terlibat aktif di Muhammadiyah. Pada waktu itu pula, HB Muhammadiyah sedang menggelar Rapat Tahunan (1923) bertempat di rumah R. Wedana Djajengprakosa. Sekretaris HB Muhammadiyah menerima Drijowongso yang bermaksud mengabdi di Muhammadiyah.

Itu baru sepenggal kisah Drijowongso sebagaimana yang dikisahkan oleh Ng. Djojosoegito dalam notulen “Peringatan Perkoempoelan Tahoenan Moehammadijah 30 Maart- 2 April 1923 di Jogjakarta” (Soewara Moehammadijah no 5 dan 6/th ke-4/1923). Di hadapan para peserta sidang, Drijowongso mengucapkan banyak terima kasih kepada Muhammadiyah. Tanpa ragu, Drijowongso menyatakan siap mengabdi di Muhammadiyah. Dia pun dipilih sebagai sekretaris Bagian PKO, mendampingi Kyai Syuja’.

Nama Drijowongso memang tidak banyak dikenal di kalangan Muhammadiyah. Sebab, ia seorang yang berkhidmat dalam berjuang di Muhammadiyah. Bekerja dalam sunyi, tetapi membuahkan hasil yang nyata. Spirit revolusioner tafsir Al-Maun rupanya mampu menggetarkan hatinya. Jika sebelumnya Drijowongso mengenal gagasan-gagasan revolusioner lewat pemikiran-pemikiran Sosialis-Marxis (gerakan kaum buruh), setelah bergaung dengan Muhammadiyah ia menemukan spirit yang sama namun berhaluan religius. Selain mengurus administrasi Bagian PKO, Drijowongso juga aktif menggalang dana untuk membangun rumah miskin dan balai pengobatan yang diperuntukkan bagi para dlu’afa pribumi.

http://suaramuhammadiyah.com/kolom/2016/03/26/siapakah-drijowongso/

Thursday, March 24, 2016

3 Tokoh Muhammadiyah Jatim yang Diabadikan sebagai Nama Rumah Sakit Pemerintah

 Penulis Redaksi - Maret 24, 2016
KH Mas Mansur (x) di depan Poliklinik Muhammadiyah Surabaya di Jl Karang Tembok. Salah satu karya nyata Muhammadiyah dalam bidang Kesehatan. (foto: repro pwm jatim)
PWMU.CO – Muhammadiyah sejak kelahirannya dikenal sebagai gerakan yang konsen pada dunia pendidikan dan kesehatan. Bahkan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, sudah mulai mendirikan sekolah setahun sebelum mendeklarasikan Muhammadiyah itu sendiri. Barulah setelah itu, berbagai sekolah milik Persyarikatan dengan modernisasi metode dan sarana pembelajaran tersebar ke seantero Nusantara.

Pada saat bersamaan dengan menjamurnya amal usaha bidang pendidikan, Muhammadiyah juga mengembangkan amal usaha di bidang kesehatan. Bersinergi dengan berbagai kalangan, poliklinik kesehatan –yang kemudian berkembang menjadi rumah sakit–, juga mulai berdiri-berderetan di bumi Indonesia. Di Jatim sendiri, hingga November 2015, tercatat amal usaha Muhammadiyah bidang Kesehatan sebanyak 72 buah, 29 di antaranya berbentuk rumah sakit, 43 buah Poliklinik, serta Balai Pengobatan (BP), Rumah Bersalin (RB), dan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA).

Khusus bidang kesehatan, selain melahirkan AUMKes yang seabreg, sudah tentu melahirkan tokoh-tokoh penting di baliknya. Tanpa memperdebatkan apakah tokoh melahirkan sejarah atau sejarah yang melahirkan tokoh, yang jelas ada tokoh-tokoh penting dalam setiap peristiwa penting. Ketokohan para pejuang kesehatan Muhammadiyah ini tidak hanya diakui secara internal, tapi juga diakui secara nasional maupun regional. Tidak heran jika nama-nama mereka juga diabadikan sebagai nama rumah sakit milik negara.

Berikut adalah 3 tokoh Muhammadiyah Jatim yang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum negara.


http://www.pwmu.co/2500/2016/03/3-tokoh-muhammadiyah-jatim-yang-diabadikan-sebagai-nama-rumah-sakit-pemerintah.html

1. RSUD Dr Soetomo Surabaya

Salah satu bangunan RSUD dr Soetomo Surabaya (foto: rsudrsoetomo.jatimprov)
Tidak banyak orang tahu bahwa dr Soetomo yang dijadikan nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Jawa Timur di Surabaya itu adalah seorang tokoh Muhammadiyah. Memang dia dikenal sebagai salah satu pendiri Boedi Oetomo, tapi pada saat bersamaan juga tokoh penting Muhammadiyah. Tidak hanya sebagai Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam bidang kesehatan, tapi juga penanggung jawab poliklinik Muhammadiyah Surabaya. Poliklinik yang digawangi itulah yang hari ini menjadi Rumah Sakit KH Mas Mansyur Surabaya, Jl. KH Mas Mansyur.

Di Surabaya, dr Soetomo banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah. Termasuk bertukar pikiran dengan KH Mas Mansur –di kemudian hari menjadi Ketua (Umum) PP Muhammadiyah, meski dalam beberapa masalah memang terdapat ketidakcocokan pemikiran. Bersama koleganya, Soetomo mengelola Poliklinik Muhammadiyah yang saat pertama kali dibuka menempati Jl Sidodadi rumah nomor 57, yang tentu saja tanpa digaji.

Bukan hanya bertanggung jawab untuk mengelola poliklinik, bahkan dr Soetomo juga diberi tanggung jawab untuk memperkenalkan organisasi Muhammadiyah kepada khalayak saat acara pembukaan. Padahal acara pembukaan pada tanggal 14 September 1924 itu juga dihadiri langsung oleh perwakilan Pengurus Besar (sekarang Pimpinan Pusat) Muhammadiyah, Hadji Soedja’ dan Hadji Hadikoesoemo. “Njonjah-njonjah dan Toewan-toewan. Atas nama perserikatan kita jang namanja Moehammadijah, ja’ni oentoek memperingati Nabi kita, Nabi Moehammad s.a.w, kami mengoetjapkan selamat datang dan terima kasih oentoek perhatian toewan-toewan, jang tampak pada hari ini,” pidato Soetomo saat pembukaan.

“…haraplah kami hendak menerangkan perserikatan kami pada toewan-toewan. Perserikatan kami ini, sebagai djoega perserikatan lainnja jang memang matjam Djawa jang bertabi’at (bersifat) mendjadikan dan memperbaiki lahirnja ditanah Vorstenlanden…Meskipoen perserikatan kami itoe kelihatannja dan woedjoednja ada berlainan dengan persarikatan yang lainnja jang timboel didoenia pada waktoe jang koerang lebih bersama-sama. Ja’ni persarikatan kami ini ada bersifat Islam. Tetapi pada hakikatnja Persyarikatan kami itoe tiada lain hanja satoe dari beberapa pertoendjok lahirnja pikiran baroe. Jang menggetarkan bahagian antero doenia jang berfikir,” jelas dr Soetomo menjelaskan singkat tentang Muhammadiyah.

Atas peran Soetomo bersama 16 koleganya sesama dokter serta Muhammadiyah Surabaya dalam membangun poliklinik Muhammadiyah, maka sidang Pengurus Besar Muhammadiyah Yogyakarta memutuskan mengangkat Soetomo menjadi Medisch Adviseur Muhammadiyah bidang kesehatan. Salah satu kerja yang menjadi bagian dari Penolong Kesangsaraan Oemoem (PKO).


http://www.pwmu.co/2500/2016/03/3-tokoh-muhammadiyah-jatim-yang-diabadikan-sebagai-nama-rumah-sakit-pemerintah.html/2

2. RSUD dr Soewandhie Surabaya

Salah satu bangunan RSUD dr Soewandhie Surabaya (foto: rs-soewandhi.surabaya)
Pada November 1945, saat Belanda membonceng sekutu ingin kembali menjajah Indonesia, Surabaya menjadi lautan darah. Selama sebulan, terjadi pertempuran face to face antara Sekutu dan rakyat Surabaya. Ribuan orang gugur dalam pertempuran yang diabadikan sebagai Hari Pahlawan itu, serta tidak terhitung berapa korban yang terluka. Keahlian kedokteran Indonesia yang masih minim, membuat tidak banyak orang yang tampil sebagai sosok menonjol. Salah satunya adalah dr Moehammad Soewandhie.

Peran Soewandhie bisa dikata cukup dominan dalam memberi penanganan kesehatan korban perang karena posisinya sebagai koordinator Kesehatan Urusan Perang di Korp Palang Merah. Selain merawat dan menguburkan jenazah korban perang, seksi ini bersama masyarakat juga membuat dapur umum untuk mendukung kelancaran perjuangan kemerdekaan. Selain itu, pascapertempuran 10 November 1945, Soewandhie memimpin ‘pembookingan’ jawatan kereta api untuk mengungsikan pasien ke luar kota.

Saat itulah hampir tidak ada waktu baginya untuk istirahat sejenak sekalipun. Siang dan malam dihabiskan untuk menggordinir petugas medis menggotong korban ke stasiun Gubeng, untuk diberangkatkan ke rumah sakit luar Surabaya. Tidak hanya itu, seksi yang dipimpinnya juga melakukan pengungsian massal dengan alat transportasi apapun: mobil, dokar, hingga cikar. Tak ketinggalan, diapun ‘terpaksa’ ikut mengungsi serta mendirikan beberapa rumah sakit darurat di pengungsian.

Salah satu putra Muhammadiyah ini lebih banyak dikenal kiprahnya di dunia kesehatan. Padahal jauh sebelumnya, Soewandhie adalah tokoh pergerakan nasional yang gigih. Dia juga sempat tercatat sebagai anggota perkumpulan pemuda yang dianggap cikal bakal gerakan nasionalisme Indonesia yaitu Jong Java.

Suami dari Iniek Ismari yang dinikahinya di Kediri pada 28 Mei 1929 ini, selalu berada pada lintasan sejarah kebangsaan. Dari zaman penjajahan Belanda hingga Jepang, kiprahnya terus konsisten memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan, ketika masa Jepang, Soewandhie bersama beberapa tokoh surabaya kala itu seperri Roeslan Abdulgani, Dul Arnowo, dan Sungkono selalu berkumpul untuk mengatur strategi menyongsong kemerdekaan 17 Agustus 1945. Rumahnya di jalan Anjasmoro 20 Surabaya merupakan tempat berkumpulnya tokoh-tokoh tersebut sebagai tempat rapat rahasia.

Sebagai tokoh yang berpandangan modern, Soewandhie akhirnya memilih bergabung dengan Muhammadiyah. Sebagai generasi Islam dia merasa perlu memiliki perkumpulan Islam. Disamping itu, Muhammadiyah seakan membuatnya nyaman karena dekat dengan amal-amal shaleh kepada sesama. Salah satu kecocokannya di Muhammadiyah kemudian semakin menjadikan dia sebagai tokoh pelopor kesehatan kala itu.

Di Muhammadiyah dia seperti mendapatkan ruang. Dia terlibat menjadi pengasuh balai kesehatan di Kampementstraat (Jl. KH Mas Masur) mulai tahun 1926. Bahkan, dalam periode kepemimpinan Muhammadiyah Surabaya 1962-1964, dirinya sempat dipercaya sebagai Ketua PD Muhammadiyah. Karena dia kemudian terpilih sebagai ketua Muhammadiyah cabang Surabaya Tengah (satu tingkat di bawah PD), dia memilih sebagai Ketua Cabang tersebut. Sementara untuk ketua PDM Kota Surabaya dijabat HM. Anwar Zain.

Pilihannya menjadi dokter ternyata menjadi panutan di dunia kedokteran, terutama pengabdiannya pada rakyat. Untuk mengenang jasanya sebagai seorang Dokter yang sekaligus seorang pejuang, pemerintah Kota Surabaya mengabadikan namanya sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di kawasan Tambakrejo.  Sosok yang wafat 16 Maret 1987, juga berperan dalam dunia olah raga di Surabaya: salah satu pendiri Surabayase Inlandsche Voetbalbond (SIVB) yang kini berubah menjadi Persebaya.


http://www.pwmu.co/2500/2016/03/3-tokoh-muhammadiyah-jatim-yang-diabadikan-sebagai-nama-rumah-sakit-pemerintah.html/3

3. RSUD dr Koesnadi Bondowoso


Salah satu bangunan RSUD dr Koesnadi Bondowoso (foto: portalkbr)

RSUD Pemerintah Kabupaten Bondowoso ini terletak di Jl. Kapten Pieree Tendean Nomor 3. Meski daerah ini dikenal bukan basis Muhammadiyah, tapi di tempat ini lahir tokoh besar Muhammadiyah. Yaitu Koesnadi, yang memang lebih banyak beraktivitas di Surabaya dan Jakarta. Lahir di Bondowoso, dia menempa diri saat muda di Surabaya dengan aktif di Hizbul Wathan (HW), Kepanduan milik Muhammadiyah.

Melanjutkan perkuliahan kedokteran di Jakarta, lantas dia banyak banyak berkecimpung dalam kegiatan Muhammadiyah. Dengan keahliannya sebagai pakar kesehatan, dalam setiap kepemimpinan PP Muhammadiyah dia selalu diamanahi sebagai Wakil Ketua (sekarang Ketua) yang membidangi Kesehatan. Namanya berkibar secara nasional sejak tahun 1962, sehingga dalam muktamar setengah abad itu dia terpilih sebagai anggota PP Muhammadiyah.

Dalam 6 muktamar kemudian, dia terus terpilih sebagai anggota PP. Mulai muktamar 1965 di Bandung, 1968 di Yogyakarta, 1971 di Ujung Pandan (Makassar), 1975 di Padang, 1978 di Surabaya, hingga yang terakhir pada muktamar 1985 di Surakarta. 11 bulan sebelum pelaksanaan muktamar ke-42 di Yogyakarta, 15-19 Desember 1990, Allah swt memanggilnya terlebih dahulu pada 24 Januari pada tahun yang sama. Pikiran-pikiran segar Koesnadi dalam menyelaraskan Islam dengan perkembangan kesehatan juga dijadikan rujukan negara ketika mengambil kebijakan.

Nama Koesnadi memang erat dengan dunia kesehatan. Di Muhammadiyah, dia selalu diamanahi tugas mengurus tentang kesehatan. Tak heran jika namanya selalu disebut-sebut dalam berbagai pendirian Rumah Sakit Muhammadiyah. Dalam pembangunan RS Siti Khodijah Sepanjang Sidoarjo 1967 misalnya, Koesnadi adalah peletak batu pertamanya. Sedangkan di Jakarta, dia juga tercatat sebagai inisiator pendirian Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih, dan Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Sukapura.

Reputasi Koesnadi di belantara internasional juga tidak diragukan lagi dalam menyuarakan perbaikan kesehatan bagi umat manusia. Tak heran jika rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta 1983-1990 ini menjadi sosok penting di Indonesia bagi NOVIB (Nederlands Organisatie Voor Internationle Behulpazaam Heid). Yaitu  lembaga pemerintahan Belanda yang memberikan bantuan dana ke pihak-pihak yang memerlukannya. Sangat wajar jika Pemerintah Kabupaten Bondowoso akhirnya mengabadikan namanya sebagai nama RSUD setempat. (kholid)

http://www.pwmu.co/2500/2016/03/3-tokoh-muhammadiyah-jatim-yang-diabadikan-sebagai-nama-rumah-sakit-pemerintah.html/4