Tuesday, July 4, 2017

Akoid doel Iman

Siapa bilang KH Ahmad Dahlan tak pernah menulis buku? Kata siapa ia tak memiliki karya tulis? Akhirnya ditemukan buku2 karya Dahlan. Yang terbaru berjudul "Akoid doel Iman". Dicetak pertama kali thn 1941. Setebal 20 halaman. Ini menambah daftar buku karya Dahlan yang kini telah ditemukan. Sebelumnya, telah ditemukan makalah "Tali Pengikat Hidup" dan "Korespondensi Dahlan".


Sunday, May 28, 2017

Review: The Crescent Arises over the Banyan Tree

Review: The Crescent Arises over the Banyan Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a Central Javanese Town, c. 1910s–2010 by Mitsuo Nakamura

Reviewed Work: The Crescent Arises over the Banyan Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a Central Javanese Town, c. 1910s–2010 by Mitsuo Nakamura
Review by: Daniel Andrew Birchok
Indonesia
No. 101 (April 2016), pp. 121-125
DOI: 10.5728/indonesia.101.0121
Stable URL: http://www.jstor.org/stable/10.5728/indonesia.101.0121
Page Count: 5

http://www.jstor.org/stable/10.5728/indonesia.101.0121?seq=1#page_scan_tab_contents
or
https://cip.cornell.edu/DPubS?service=UI&version=1.0&verb=Display&handle=seap.indo/1481300016




Saturday, April 22, 2017

Muhammadiyah dan NU: Penjaga Moderatisme Islam di Indonesia

Hayula, Vol. 1, No. 1, 2017

Zakiya Darajat

Abstract


Islam has been expressed through its adherents in many ways. Sometimes the expression has been judged as hard and even arrogant. This is not the case with Islam in Indonesia which has been shown more friendly expression of Islam. However, the radical movements have challenged this peaceful image of Islam in Indonesian. The research which mainly utilized the library sources has concludes that Islam in Indonesia is still considered to be a moderate Islam and in this case, Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama are two organizations which can be seen as the guardians of Islamic moderatism in Indonesia. 


Keywords


Moderatisme; Islam Indonesia; Muhammadiyah; Nahdlatul Ulama

Full Text:

PDF

References


A. Syafi’i Ma’arif, Hubungan Muhammadiyah dan Negara: Tinjauan Teologis, dalam ‎Rekonstruksi Gerakan Muhammadiyah pada Era Multiperadaban, Yogyakarta: UII ‎Press, 2000.‎
Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara; Sejarah Wacana dan Kekuasaan Bandung: ‎Remaja Rosdakarya, 1999.‎
‎----------, Muhammadiyah dan Negara: Tinjauan Teologis-Historis, dalam Rekonstruksi ‎Gerakan Muhammadiyah pada Era Multiperadaban, Yogyakarta; UII Press, 2000.‎
‎----------, Radikalisme NU dan Liberalisme Pemikiran NU dalam Konflik Baru Antar ‎Peradaban; Globalisasi, Radikalisasi dan Pluralitas, Jakarta: RajaGrafindo Persada, ‎‎2002. ‎
Abdul Rouf, NU dan Civil Islam di Indonesia, Jakarta: Intimedia, 2010,‎
Abdul Mun’im DZ, Piagam Perjuangan Kebangsaan, Jakarta: PBNU, 2013.‎
Airlangga Pribadi dan M. Yudhi R. Haryono, Post Islam Liberal, Jakarta: Gugus Press, 2002.‎
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES, 1996.‎
Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama; Sejarah NU 1952-1967, Yogyakarta; LkiS, 2003.‎
Greg Fealy, “Islamic Radicalism in Indonesia; the Faltering Revival?”, Institute of Southeast ‎Asian Studies (2004), http://www.jstor.org/stable/27913255.‎
Imam Samudra, Aku Melawan Teroris, Solo; Jazeera, 2004.‎
James Turner Johnson, The Holy War Idea in Western and Islamic Tradition (terj), Yogyakarta: ‎Qalam, 1997.‎
John. L. Esposito, Islam and Politics, New York: Syracuse University, 1998.‎
Karel Steenbrink, Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19, Jakarta; Bulan ‎Bintang, 1984. ‎
Madjid Khadduri, War and Peace in The Law of Islam, New Jersey; The John Hopkins ‎University Press, 2006.‎
M. Imdadun Rahmat, Islam Pribumi, Islam Indonesia, Jakarta: Erlangga, 2003.‎
Martin Van Bruinessen, NU; Tradisi Relasi –Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, ‎Yogyakarta; LkiS, 2009.‎
Syarifuddin Jurdi, Muhammadiyah dalam Dinamika Politik Indonesia 1966-2006, Yogyakarta: ‎Pustaka Pelajar, 2010.‎

http://journal.unj.ac.id/journalfis/index.php/hayula/article/view/8

Transforming the writing of history: The new narrative of enlightenment within Muhammadiyah

Abstract: This article seeks to account for a recent change in the method of history writing within the major Indonesian social organisation Muhammadiyah, namely a shift from chronology to historical narrative. Until recently, Muhammadiyah's history had always been written as a chronicle, a form with minimal moral import. But in 2010 Muhammadiyah published an historical account that takes the form of a narrative, a form with a beginning, middle and moral end. This historical account has been constructed around three ideas: the importance of individual enlightenment, that the founder of Muhammadiyah (Ahmad Dahlan) was the prototype of the enlightened individual, and that divine intervention served to monitor this process. Further, this article suggests that the change to a narrative form can be explained by shifts in the political balance within Muhammadiyah as it responds to a changing social context.
To cite this article: Harijanto, Christian and Chalmers, Ian. Transforming the writing of history: The new narrative of enlightenment within Muhammadiyah [online].  RIMA: Review of Indonesian and Malaysian Affairs, Vol. 47, No. 2, 2013: 63-90. Availability: ISSN: 0815-7251. [cited 23 Apr 17].
Personal Author: Harijanto, ChristianChalmers, Ian Source: RIMA: Review of Indonesian and Malaysian Affairs, Vol. 47, No. 2, 2013: 63-90 DOI:  Document Type: Journal Article ISSN: 0815-7251 Subject: Islam and politics--HistoriographyCultural pluralism--Religious aspects--IslamKnowledge, Theory of (Islam)Muhammadiyah (Organization)Islamic renewal  

Tuesday, April 4, 2017

Sekolah Agama dan Perdamaian Perpektif Muhammadiyah dan NU bagian 4/4

Ulil Abshar Abdalla menjelaskan bahwa Agama berawal dari kritik sosial. Ulil juga menerangkan sejumlah tren di negara Arab saat ini tentang banyaknya orang yang keluar dari Islam. Pada bagian ini, terdapat juga sejumlah pertanyaan yang ditujukan pada kedua narasumber yang kemudian dijawab dengan lugas juga oleh kedua narasumber.


Monday, April 3, 2017

Sekolah Agama dan Perdamaian Perpektif Muhammadiyah dan NU bagian 3/4

Dr. Ahmad Najib Burhani berbicara tentang RUU Perlindungan Umat Beragama, tentang ortodoksi dan pahaman-pahamann minoritas, serta perubahan Moralitas terhadap bangsa termasuk menjawab isu LGBT. Sementara itu Ulil Abshar Abdalla sebagai perwakilan dari NU menjelaskan eksesnsi dari seseorang beragama. Seri Sekolah Agama ICRP dalam perspektif NU dan Muhammadiyah, pada 12 Juni 2015.


Sunday, April 2, 2017

Sekolah Agama dan Perdamaian Perpektif Muhammadiyah dan NU bagian 2/4

Dr. Ahmad Najib Burhani, menjelaskan tentang tafsir Tematik yang dipakai oleh Muhammadiyah, yang menjelaskan tentang orang-orang non Muslim di luar Islam menurut pandangan Muhammadiyah. Namun prinsip-prinsip yang diterapkan dalam Muhammdiyah tidak selamanya juga diterapkan secara total oleh Masyarakat Muhammadiyah bahkan ada juga yang melakukan penolakan. Seri Sekolah Agama dan Perdamaian dalam perspektif Islam, NU dan Muhammadiyah di ICRP, Jakarta pada 5 Juni 2015.


Saturday, April 1, 2017

Sekolah Agama dan Perdamaian Perpektif Muhammadiyah dan NU bagian 1/4

Dr. Ahmad Najib Burhani, Peneliti LIPI dan sekaligus merupakan aktivis Muhammadiyah menjelaskan tentang Islam, Kemuhammadiyahan, Perdamaian dan tentang prinsip serta teks yang menjadi pengangan hidup sehari-hari masyarakat Muhammadiyah dan bagaimana masyarakat Muhammadiyah menerapkannya. Pertemuan kedua seri sekolah Agama ini dilaksanakan pada tanggal 12 Juni 2015 di kantor ICRP, Jakarta.