Wednesday, February 14, 2018

The typology of Muhammadiyah Sufism: tracing its figures’ thoughts and exemplary lives

JIIS, 7 (2/2017): 221-249

Biyanto Biyanto

Abstract
This article explores the style of sufism from the perspective of Muhammadiyah. It is a literature study on the official fatwa given by Muhammadiyah on sufism as a part of spiritual dimension in Islamic teaching. This study places a number of Muhammadiyah figures as the subject of study. This study concludes that the views of Muhammadiyah and its figures on sufism are very positive. Sufistic life in fact also becomes a trend among the followers of Muhammadiyah. Important styles of Muhammadiyah sufism include: first, Muhammadiyah sufistic teachings are based on pure monotheism. The second, Muhammadiyah sufistic is practiced under the frame of shari‘ah, on the basis of the Qur’an and Hadith. Third, the substance of sufism in the Muhammadiyah perspective is noble character that should be realized in daily life. Fourth, the orientation of Muhammadiyah sufism emphasizes the dimension of righteous deeds, social praxis, and of moving from theory to practice. Fifth, Muhammadiyah sufism presents sufistic teachings adjusted to the spirit of modernity so that it may be called modern sufism. Sixth, Muhammadiyah sufism is expressed in more active and dynamic styles. A sufi is not allowed to do nothing, but is obliged to work actively and to interact with society. Seventh, Muhammadiyah sufism stays away from the philosophical sufism discourse that may potentially cause debates. Muhammadiyah views that to become sufi, one should not become the member of sufi order with the style of “teacher-centered” in practice.

Artikel ini membahas corak sufisme dalam perspektif Muhammadiyah. Kajian ini merupakan studi literatur terhadap fatwa resmi Muhammadiyah terhadap sufisme sebagai bagian dari dimensi spiritual ajaran Islam. Kajian ini juga menempatkan sejumlah tokoh Muhammadiyah sebagai subjek studi. Kajian ini menyimpulkan bahwa perspektif Muhammadiyah dan tokoh-tokohnya terhadap sufisme sangat positif. Kehidupan sufistik dalam kenyataannya juga menjadi trend di kalangan pengikut Muhammadiyah. Corak sufisme Muhammadiyah yang penting meliputi: pertama, ajaran sufisme Muhammadiyah berbasis pada tauhid murni. Kedua, sufisme Muhammadiyah dipraktekkan dalam bingkai syariah, berdasar al-Qur’an dan hadits. Ketiga, substansi sufisme dalam perspektif Muhammadiyah adalah akhlak mulia dan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Keempat, orientasi sufisme Muhammadiyah menekankan dimensi amal salih, praksis sosial, dan bergerak dari teori ke praktek. Kelima, sufisme Muhammadiyah menampilkan ajaran tasawuf yang disesuaikan dengan spirit modernitas sehingga layak disebut tasawuf modern. Keenam, sufisme Muhammadiyah diekspresikan dalam corak yang lebih aktif dan dinamis. Seorang sufi tidak boleh berpangku tangan, melainkan harus aktif bekerja dan berinteraksi dengan masyarakat. Ketujuh, sufisme Muhammadiyah
menjauhi wacana tasawuf falsafi yang potensial mengundang perdebatan. Terakhir, Muhammadiyah berpandangan untuk menjadi sufi, seseorang tidak harus menjadi anggota tarekat yang dalam prakteknya bercorak guru sentris.

Keywords: Progressive sufism; Sufi order; Muhammadiyah; ulama

http://ijims.iainsalatiga.ac.id/index.php/ijims/article/view/1292

Friday, February 9, 2018

Suara Muhammadiyah dan Jurnalisme Kaum Modernis

Tirto.id
Kolumnis: Muhammad Yuanda Zara
09 Februari, 2018

Selain warga Muhammadiyah dan lingkaran intelektual Muslim tertentu, hanya sedikit orang mengetahui Majalah Suara Muhammadiyah (SM). Sekilas ini mudah dipahami karena SM diterbitkan oleh Muhammadiyah dan terutama sekali ditujukan pada warga Muhammadiyah. Orang tidak akan menemukan SM di lapak koran. Bahkan, para pengamat media juga kerap melupakan SM dalam kajiannya tentang sejarah pers di Indonesia. Cara berpikirnya sederhana: karena SM (dinilai) semata media internal Muhammadiyah (Budi Irawanto dalam Khrisna Sen & David T. Hill [ed.], 2011).

Padahal bila dilihat dari berbagai aspek, SM punya bobot yang tak bisa diremehkan. Majalah ini hadir sejak 1915, atau tiga tahun setelah Muhammadiyah berdiri dan tiga dekade sebelum Republik Indonesia lahir. Satu lagi: SM masih tetap terbit hingga hari ini. Artinya, usianya telah mencapai seabad lebih.

Catatan lain bisa ditambahkan: SM adalah majalah yang turut membentuk generasi baru intelektual Muslim Indonesia di paruh kedua abad ke-20. Saat para intelektual itu masih muda, mereka berkali-kali menulis dan muncul di SM. Daftarnya merentang dari Ahmad Syafii Maarif, Amien Rais, Emha Ainun Nadjib, M. Diponegoro, dan Haedar Nashir. Nama pertama yang kini begitu terkenal, Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah dan guru besar Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta, dulu bahkan merupakan wartawan SM dari tahun 1965 sampai 1972. Ia terjun ke lapangan untuk mengumpulkan bahan berita dan pergi ke berbagai kota untuk mewawancarai narasumber.

Penghargaan datang silih berganti untuk menghargai pencapaian SM, mulai dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yang menyebutnya sebagai Majalah Islam yang Terbit Berkesinambungan Terlama dan Serikat Perusahaan Pers (SPS) yang mendaulatnya sebagai Salah Satu Majalah Tertua di Indonesia. Yang terbaru, dalam Peringatan Hari Pers Nasional di Padang pada 9 Februari 2018, SM diberi penghargaan untuk kategori Kepeloporan sebagai Media Dakwah Perjuangan Kemerdekaan RI dalam Bahasa Indonesia.

Bisa dikatakan usaha memahami sejarah pers sekaligus sejarah Islam di Indonesia tanpa menyinggung SM niscaya tidak akan lengkap.

Baca juga: Kiai Dahlan & Muhammadiyah: Usaha Melumat Kejumudan Umat
Islam, Kebangsaan dan Kemajuan

Ada tiga elemen yang secara konstan hadir di SM: (1) upaya memurnikan ajaran Islam, (2) gagasan untuk memajukan umat Islam dan Indonesia, dan (3) usaha membangun kesadaran kebangsaan.

Salah satu fungsi SM adalah sebagai media dakwah yang bertujuan memurnikan ajaran Islam; sesuatu yang memang beririsan rapat dengan "ideologi" Muhammadiyah. Sejak awal kelahirannya, SM senantiasa mengulas berbagai aspek agama Islam, misalnya tentang puasa Ramadan, tauhid, ziarah kubur, hingga soal hukum memotong gigi. Pada 1923, SM menulis bahwa “keroesakan orang Islam tanah Hindia pada waktoe ini soedah sebegitoe kerasnja”. Ini mengacu berbagai tafsiran dan praktik Islam yang dinilai keliru oleh SM. Maka SM bertekad membawa kaum Muslim ke ajaran Islam yang sebenarnya. Al Quran dan Hadis Nabi Muhammad saw dijadikan sebagai pegangan.

SM merupakan salah satu tempat kaum Muslim Hindia Belanda belajar Islam yang murni. Ini tercermin dari surat pembaca seorang pembaca SM pada 1923. Sang pembaca menyebut dirinya “seorang jang koerang pengetahoean”, dan ia mencari ilmu agama dari SM untuk “memberi penerang hati kami jang gelap”.

Baca juga: Kisah Ahmad Dahlan dan Koreksi Waktu Subuh Muhammadiyah

Di luar soal pemurnian agama, SM juga mencita-citakan kemajuan intelektualitas pembacanya. Rasionalitas dan penyesuaian dengan dunia modern menjadi ciri khas SM sejak awal terbit hingga kini. Pendiri SM, KH Ahmad Dahlan, memilih sarana komunikasi terkini di zamannya bernama percetakan dan penerbitan untuk menyebarkan gagasannya daripada terpaku pada metode tradisional berupa tatap muka di masjid.

Apresiasi SM pada pencapaian intelektual dan kemajuan ilmu pengetahuan tampak dari besarnya tempat yang diberikan pada para ahli, baik dalam ilmu agama maupun dalam subjek sekuler, untuk menyuarakan opininya di setiap edisi SM. Direktur Islamic Studies di McGill University, Kanada, Dr. Wilfred Cantwell Smith, bahkan pernah muncul di sampul depan SM pada 1973.

SM mendorong pembacanya berpandangan ke luar dengan berpikir mondial. Sejak awal SM sudah berbicara tentang luar negeri, walau masih sebatas perjalanan naik haji ke Mekkah. Dalam dekade-dekade berikutnya, dunia yang ditampilkan SM kian luas. Berbagai reportase SM berbicara tentang, umpamanya, dinamika politik di daerah konflik seperti India-Kashmir dan Palestina-Israel, serta perkembangan Islam, baik di negara mayoritas muslim seperti Pakistan dan Malaysia, atau di wilayah-wilayah yang muslimnya menjadi minoritas.

Mungkin mengherankan pengamat media Islam, namun beginilah adanya: SM bahkan berbicara soal teknologi tinggi, khususnya perkembangannya di Barat. Contoh yang paling menonjol saat SM turut mengabadikan salah satu pencapaian teknologi terbesar umat manusia di abad ke 20 yaitu pendaratan manusia di bulan tahun 1969. Dari tahun itu hingga beberapa tahun setelahnya, SM mengupas banyak hal teknis soal pendaratan ini, mulai dari modul lunar eagle yang dipakai, tarikan gravitas bumi, hingga kecepatan pesawat. Untuk mempertajam analisis, SM tidak sungkan mengeksplorasi imajinasi manusia tentang bulan di dalam novel karya Jules Verne tahun 1865, De la Terre a la Lune (Dari Bumi ke Bulan).

Sedangkan dalam soal kesadaran kebangsaan, SM membangunnya lewat berbagai macam cara. Pertama, lewat kebijakan bahasa. SM awalnya terbit dalam bahasa dan aksara Jawa, tapi di era 1920an SM mengadopsi bahasa Melayu yang kala itu merupakan salah satu wujud dukungan terhadap emansipasi sosial-politik pribumi dan sikap anti-kolonialisme Belanda. Istilah “Indonesia”, sebagai kata ganti Hindia Belanda, sudah dipakai SM sejak 1924, empat dekade setelah Adolf Bastian mempopulerkan kata “Indonesien” lewat bukunya, Indonesien: Oder, die Inseln des Malayischen Archipel (1884), dan dua tahun setelah Indische Vereniging di Belanda berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia (1922).

Di sisi lain, SM membangun kesadaran spasial para pembacanya tentang wilayah geografis Hindia Belanda, dan kemudian Indonesia. Pembaca diajak membayangkan, dan kemudian menyadari, bahwa dunia tak hanya Yogyakarta saja. Sejak era 1920an, seiring dengan sirkulasi SM ke luar Yogyakarta, hadirlah nama wilayah lain Hindia Belanda di SM, mulai dari Solo, Surabaya, Batavia, Garut, Pekalongan, Prianger (Priangan), Sumatra hingga Celibes (Sulawesi).

Tulisan-tulisan SM tentang berbagai belahan dunia (dan belahan alam semesta) ini memberi kesempatan pembacanya untuk tak hanya paham perihal persoalan organisasi Muhammadiyah atau Indonesia semata, tapi juga konstelasi sosial dan politik di seantero bumi, dan bahkan teknologi maju untuk menuju luar angkasa. Terselip pula pesan dari SM agar orang Indonesia turut ambil bagian dalam perlombaan kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan sains.

Baca juga: Kiprah KH Fakhruddin, Putra Lurah Keraton, Membesarkan Muhammadiyah

Pada 1960an, SM melaporkan berbagai usaha Muhammadiyah untuk melepaskan “anak panah”-nya ke pelosok Indonesia, misalnya ke pedalaman Lombok dan Papua. Reportase ini mengomunikasikan berbagai problem yang ada di luar Jawa kepada para pembaca SM di seluruh Indonesia. Lahirlah simpati dan perhatian terhadap daerah-daerah tersebut. Via reportase semacam ini, SM membawa daerah terpencil ke dalam peta besar Indonesia.

Dengan umurnya yang telah satu abad lebih, SM telah menjadi saksi berbagai peristiwa besar di Indonesia dan dunia, dan bergerak melintasi berbagai zaman yang sering kali kejam bagi media massa (SM, misalnya, sempat berhenti terbit di masa pendudukan Jepang). SM secara konstan menyuarakan kemajuan bagi umat Islam dan Indonesia.

Bisa dimengerti jika jika Dr. James Peacock dan Prof. DC Mulder, dua peneliti asing yang fokus mengkaji Indonesia, menjadi pelanggan SM pada 1970an. Bagi mereka, SM adalah salah satu sumber penting untuk penelitian. Memang, SM merupakan jendela jurnalistik yang tepat untuk melihat perkembangan Islam di Indonesia yang dipelopori kaum modernis, yang percaya bahwa progres hanya bisa dicapai dengan pemahaman agama yang murni dan adaptasi dengan dunia modern.

Sumber:

Soewara Moehammadijah, Januari I, 1923
Suara Muhammadiyah No. 12 Th. 49, 1969
Suara Muhammadiyah No. 13-14, Th. 49, 1969
Suara Muhammadiyah No. 21-22, Th. 51, November I-II, 1971
Suara Muhammadiyah No. 1, Th. 52, Januari I, 1972
Suara Muhammadiyah, No. 17 Th. 53, September I, 1973
Sen, Khrisna & David T. Hill (ed.). 2011. Politics and the Media in Twenty-First Century in Indonesia: Decade of Democracy. London & New York: Routledge.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.

https://tirto.id/suara-muhammadiyah-dan-jurnalisme-kaum-modernis-cExK

Suara Muhammadiyah dan Hari Pers Nasional


Republika, Selasa 06 February 2018
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dalam usianya yang ke-103 tahun, majalah SM (Suara Muhammadiyah) pada Peringatan HPN (Hari Pers Nasional) di Padang, 9 Februari 2018, akan mendapatkan penghargaan dari Panitia Pusat HPN dalam kategori Kepeloporan sebagai Media Dakwah Perjuangan Kemerdekaan RI dalam Bahasa Indonesia. Sebelumnya, pada 11 Oktober 2016, SM juga telah mendapatkan penghargaan Rekor Muri dalam kategori Majalah Islam yang Terbit Berkesinambungan Terlama. Pada 30 Agustus 2017, SM lagi mendapatkan Penghargaan SPS dalam kategori Salah Satu Majalah Tertua Di Indonesia.
Sepanjang sumber yang dapat dilacak sampai hari ini, boleh jadi SM adalah satu-satunya media cetak terlama yang bisa bertahan. Sebagai warisan budaya literasi dari pendiri Muhammadiyah Ahmad Dahlan dan para sahabatnya, SM telah bertahan dengan semangat yang semakin tinggi dan energi yang semakin membesar, tidak saja dalam ranah idealisme yang terus dipertajam, tetapi juga dalam pengembangan dunia usaha yang kompetitif.
Dan jangan lupa, kesejahteraan staf dan karyawan pasti akan meningkat sejalan dengan kiprah bisnis yang kreatif dan dinamis itu. Selain sebagai media cetak dwipekanan, SM juga dapat dibaca dalam versi digital. Moto terbaru yang diusung adalah “Meneguhkan dan Mencerahkan”.
Di bawah komandan Deni Asy’ari (asli Bukittinggi) sebagai dirut PT SCM (Syarikat Cahaya Media), sejak tahun-tahun terakhir ini SM telah meluaskan jaringan usahanya dalam bentuk beberapa anak perusahaan dengan aset lebih dari Rp 50 miliar (termasuk dana cair di bank). Sebuah kantor baru lima tingkat yang cukup gagah di Jalan KH Ahmad Dahlan 107, Yogyakarta, akan diresmikan pada akhir Februari 2018.
Angka ini bagi SM adalah yang terbesar sepanjang sejarahnya. Pada tahun-tahun mendatang, angka itu akan semakin membengkak. Dalam hitungan kasar saya, aset SM pada 2020 akan menembus angka Rp 90 miliar.
SM yang semula terbit dalam bahasa Jawa telah melintasi tiga zaman: penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, dan era kemerdekaan. Pernah mati suri sebentar tahun 1917-1918, pernah juga terseok-seok pada masa Jepang, tetapi dia bangkit kembali dengan segala kekuatan yang tersisa dan suka duka yang datang silih berganti.
Tahun 1922, SM mulai menggunakan bahasa Melayu, di samping masih ada rubrik dalam bahasa dan tulisan Jawa. Yang dipantangkan SM sepanjang sejarahnya: menyerah kalah saat bergumul dengan berbagai kesulitan. Akhir-akhir ini SM tampak semakin agresif dengan membuka Sudut SM (SM Corner) di berbagai kota di Indonesia.
Sebagai seorang yang terlibat dalam denyut nadi SM sejak 1965, posisi korektor dan kemudian anggota redaksi, pernah pula absen beberapa tahun, saya merasa bahagia dalam usia 83 tahun sekarang ini. Ternyata jika anak-anak muda Muhammadiyah diberi kepercayaan penuh dalam mengembangkan suatu usaha, terobosan yang mereka lakukan kadang-kadang di luar dugaan, sesuatu yang tidak saya miliki sepanjang hidup. Kepada mereka ini semua saya memberikan penghargaan tinggi dan rasa bangga yang tidak berkesudahan.
Kemudian, pengalaman sebagai korektor majalah yang dilatih oleh sastrawan almarhum A Bastari Asnin sebagai redaktur SM, masih terngiang dalam ingatan saya sebuah sepeda lusuh yang saya naiki dari Kotagede ke Percetakan Negara Yogyakarta, kuliah di IKIP Negeri, terus ke kantor Suara Muhammadiyah saat itu di Jalan KH Ahmad Dahlan 103. Alamat ini adalah kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah ketika itu, SM menompang di situ.
Di hari-hari sulit itu, SM telah sedikit meringankan beban ekonomi keluarga saya dalam suasana hidup di garis batas kemiskinan. Tidak saja sepeda yang lusuh, baju pun senasib dengan kendaraan yang catnya sudah mengelupas itu. Bahkan, istri saya, Nurkhalifah, pernah membalik letak punggung baju saya, yang lapuk diturunkan ke bagian bawah agar tidak kelihatan terlalu kumal.
Kini SM telah mengantongi penghargaan demi penghargaan. Sebagai usaha kecil menengah, anak perusahaan SM terus saja menggeliat dan menggeliat dengan toko batik, toko buku, dan penerbit SM yang semakin bermaya.
Ada beberapa penulis berbakat yang telah bergabung dengan SM. Terakhir adalah sejarawan Dr Muhammad Yuanda Zara, alumnus Universitas Amsterdam, Belanda, yang dengan sigap dan sabar telah mulai membongkar arsip-arsip kuno Muhammadiyah yang memang tidak terawat dengan baik selama sekian puluh tahun. Arsip SM nomor 1 tidak ditemukan lagi. Arsip nomor 2 tahun 1915 ditemukan almarhum Prof Dr Kuntowijoyo di negeri Belanda abad yang lalu.
SM tentu berterima kasih kepada Panitia Pusat Peringatan HPN dengan penghargaan yang akan diberikan kepada majalah tertua ini pada Jumat, 9 Februari 2018, sebagaimana telah disinggung di atas.

http://republika.co.id/berita/kolom/resonansi/18/02/06/p3pead440-suara-muhammadiyah-dan-hari-pers-nasional

Wednesday, February 7, 2018

Kata "Indonesia" di SM sebelum Sumpah Pemuda 1928

Contoh cover Majalah Suara Muhammadiyah edisi 1925. Istilah "Indonesia" sudah dipakai di sini, sebagai bukti bahwa kelompok Islam pun sudah sering menggunakan kata "Indonesia" sebelum Sumpah Pemuda 1928.

Ini sebagai satu respons thd tuduhan yg belakangan ini bersebaran bahwa sebagian kelompok Islam tidak mau terlibat dalam Sumpah Pemuda 1928. Yang pasti itu bukanlah Muhammadiyah.


Tuesday, February 6, 2018

Haji Fachrodin: Pemimpin Redaksi (Hoofdredacteur) Suara Muhammadiyah Yang Pertama





Fachrodin lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 11 Rabiul Awwal 1305 H (1890 M). Nama kecilnya Muhammad Jazuli, putra ketiga Haji Hasyim Ismail, Lurah Kraton Yogyakarta. Dia adik kandung Haji Syuja’ (nama kecil Daniyalin) dan kakak kandung Ki Bagus Hadikusuma (nama kecil Hidayat).

Fachrodin seorang pengusaha, wartawan, aktivis pergerakan, dan muballigh. Sejak muda ia telah merintis usaha percetakan, pabrik rokok, dan perhotelan. Ia tercatat sebagai anggota Inlandsche Journalisten Bond (IJB). Kiprah Fachrodin cukup berpengaruh dalam penerbitan surat kabar Dunia Bergerak, Medan-Muslimin, Islam Bergerak, Srie Diponegoro, Suara Muhammadiyah, dan Bintang Islam. Karir di politik pergerakan mencapai puncak ketika ia menjadi penningmeester (bendahara) Centraal Sarekat Islam (CSI) mendampingi HOS. Tjokroaminoto.

Di Muhammadiyah, ia masuk dalam jajaran Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah sejak masa kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan dan KH. Ibrahim. Dialah inisiator dan Hoofdredacteur (Pemimpin Redaksi) Suara Muhammadiyah pertama. Suara Muhammadiyah terbit pertama kali pada tahun 1915 di Yogyakarta, seangkatan dengan Medan-Muslimin dan Islam Bergerak di Solo. (Majalah SM 15/2015, edisi khusus Muktamar, Halaman 109)

Haji Fachrodin: Sang Revolusioner Muhammadiyah



Buku Benteng Muhammadiyah adalah buku sejarah yang mengangkat riwayat dan pemikiran Haji Fachrodin, salah satu tokoh Muhammadiyah yang merupakan murid langsung KH. Ahmad Dahlan. Tidak sedikit warga Muhammadiyah dan masyarakat yang ternyata salah mengerti tentang Fachrodin. Salah satunya ialah anggapan bahwa Haji Fachrodin ada hubungan darah dengan KH. Abdul Rozak Fachruddin (Pak AR Jogja), Ketua Umum PP Muhammadiyah sebelum digantikan oleh KH. Azhar Basyir.

Kehadiran buku ini patut diapresiasi karena merupakan karya sejarah yang cukup komprehensif menggambarkan sosok Haji Fachrodin. Buku ini sekaligus sebagai “klarifikasi resmi” penulisnya yang sebelumnya manganggap Haji Fachrodin adalah ayah kandung Pak AR Fakhrudin Jogja. Selain itu buku ini menggambarkan secara komprehensif pemikiran dan perjalanan hidup Fachrodin. Setidaknya dalam buku ini sosok Fachrodin bisa dilihat dari tiga dimensi, yaitu sebagai seorang ulama, tokoh pergerakan (aktivis buruh), dan tokoh pers.

Sebagai seorang ulama, sosok Fachrodin tidak diragukan lagi. Meskipun tidak mengenyam pendidikan (agama) secara formal tetapi pengetahuan agamanya sangat luas, menguasai khazanah intelektual Islam klasik dan modern. Terbukti bahwa ia sering mengisi rubrik pengajaran agama dan  kolom tanya jawab agama di majalah Soewara Moehammadijah (hal. 109) dan kemudian diberi amanat menjadi ketua pertama Bagian Tabligh Hoofdbestuur Muhammadiyah.

Kiprahnya sebagai tokoh pergerakan bisa dilihat dari radius pergaulannya yang luas melampaui sekat sekat ideologi, politik, dan golongan. Haji Fachrodin memiliki hubungan dekat dengan tokoh-tokoh revolusioner “kiri” seperti Alimin, Darsono, dan Haji Misbach. Uniknya, di sebelah lain Fachrodin juga aktif sebagai penningmeester Centraal Sarekat Islam dan dekat dengan tokoh-tokohnya (HOS Cokroaminoto, Abdoel Moeis, Haji Agoes Salim). Haji Fachrodin dikenal radikal-revolusioner dalam pemikiran dan tindakan sehingga ia termasuk di “jalur kiri” dalam peta perpolitikan nasional, yaitu ketika ia bergabung dalam surat kabar Doenia Bergerak, aktif sebagai wakil ketua ISDV Cabang Yogyakarta, IJB, dan  Insulinde. Ketika memimpin ISDV Cabang Yogyakarta bersama Soerjopranoto, Fachrodin berhasil menggalang sarekat-sarekat tani dan buruh sampai ke pelosok pedesaan dan melakukan aksi pemogokan di pabrik-pabrik gula sebagai bentuk protes terhadap pemerintah kolonial.

Dunia pers  dan penulisan tidak bisa dilepaskan dari sosok Fachrodin. Bakat menulisnya sudah tampak sejak aktivitasnya mengikuti pengajian modernis Ahmad Dahlan di Langgar Kidul. Bakat tersebut semakin terasah ketika ia belajar jurnalistik kepada Mas Marco Kartodikromo. Fachrodin tercatat sebagai tokoh penting pers di masa pergerakan. Ia terlibat sejak awal penerbitan surat kabar Medan-Moeslimin (1915) dan Islam Bergerak (1917) bersama Haji Misbach (Solo). Fachroedin juga pernah tercatat sebagai pimpinan redaksi surat kabar mingguan Srie Diponegoro, kontributor di surat kabar Doenia Bergerak (1919), redaktur Pambrita CSI (1920), Soewara Moehammadijah (1920), Bintang Islam (1923), Tjamboek (1925), Soengoeting Moehammadijah, Pertimbangan (1924). Karena tulisan-tulisannya yang tajam dan tidak jarang membuat pemerintah kolonial “kebakaran jenggot”, Fachrodin sering keluar masuk penjara karena delik pers. Selain di dunia pers, Fachrodin juga cukup banyak menulis buku, salah satunya yang terkenal adalah buku Marganing Koemawoela.

Kehadiran buku Benteng Muhammadiyah ini bukti masih adanya orang Muhammadiyah yang peduli dengan geliat intelektualisme serta kesejarahan dalam Muhammadiyah. Banyak  data dan informasi penting yang sangat dibutuhkan masyarakat untuk mengetahui sejarah awal pergerakan nasional dan perjalanan tokohnya. Lebih penting dari buku ini adalah menyadarkan warga dan pimpinan Muhammadiyah untuk tidak abai terhadap khazanah intelektual warisan para tokoh pendiri Muhammadiyah. Terbitnya buku ini menambah referensi tentang Fachrodin, salah satu pendiri Muhammadiyah, pahlawan nasional, tokoh pergerakan nasional, pers, dan ulama yang disegani di zamannya. Kita rindu pimpinan-pimpinan Muhammadiyah seperti Fachrodin, sosok revolusioner dalam pikiran dan tindakan.

Muhamad Arifin,
Sekretaris Majelis Pendidikan Kader (MPK) PD Muhammadiyah Kota Surakarta
(tulisan ini pernah dimuat di Majalah PK Media Perguruan Muhammadiyah Kottabarat-Surakarta)

Monday, December 11, 2017

13 Hal yang Perlu Diketahui tentang Amal Usaha Muhammadiyah


KHITTAH.co – Merujuk pada Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, khususnya pada bagian kehidupan dalam mengelola Amal usaha, terdapat 13 ketentuan yang perlu diketahui sebagai berikut:

  1. Amal usaha Muhammadiyah adalah salah satu usaha dari usaha-usaha dan media dakwah persyarikatan untuk mencapai maksud dan tujuan persyarikatan. Oleh karenanya semua bentuk kegiatan amal usaha Muhammadiyah harus mengarah kepada terlaksananya maksud dan tujuan persyarikatan dan seluruh pimpinan serta pengelola amal usaha ber-kewajiban untuk melaksanakan misi utama Muhammadiyah itu dengan sebaik-baiknya sebagai misi dakwah.
  2. Amal usaha Muhammadiyah adalah milik persyarikatan dan persyarikatan bertindak sebagai Badan Hukum/Yayasan dari seluruh amal usaha itu, sehingga semua bentuk kepemilikan persyarikatan hendaknya dapat diinventarisasi dengan baik serta dilindungi dengan bukti kepemilikan yang sah menurut hukum yang berlaku.
  3. Pimpinan amal usaha Muhammadiyah diangkat dan diberhentikan oleh pimpinan persyarikatan dalam kurun waktu tertentu. Dengan demikian pimpinan amal usaha dalam mengelola amal usahanya harus tunduk kepada kebijaksanaan Persyarikatan dan tidak menjadikan amal usaha itu terkesan sebagai milik pribadi atau keluarga, yang akan menjadi fitnah dalam kehidupan dan bertentangan dengan amanat.
  4. Pimpinan amal usaha Muhammadiyah adalah anggota Muhammadiyah yang mempunyai keahlian tertentu di bidang amal usaha tersebut, karena itu status keanggotaan dan komitmen pada misi Muhammadiyah menjadi sangat penting bagi pimpinan tersebut agar yang bersangkutan memahami secara tepat tentang fungsi amal usaha tersebut bagi persyarikatan dan bukan semata-mata sebagai pencari nafkah yang tidak peduli dengan tugas-tugas dan kepentingan-kepentingan Persyarikatan;
  5. Pimpinan amal usaha Muhammadiyah harus dapat memahami peran dan tugas dirinya dalam mengemban amanah p Dengan semangat amanah tersebut, maka pimpinan akan selalu menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh persyarikatan dengan melaksanakan fungsi manajemen perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan yang sebaik-baiknya dan sejujur jujurnya;
  6. Pimpinan amal usaha Muhammadiyah senantiasa berusaha meningkatkan dan mengembangkan amal usaha yang menjadi tanggung jawabnya dengan penuh kesungguhan. Pengembangan ini menjadi sangat penting agar amal usaha senantiasa dapat berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiq al–khairāt) guna memenuhi tuntutan masyarakat dan tuntutan zaman;
  7. Sebagai amal usaha yang bisa menghasilkan keuntungan, maka pimpinan amal usaha Muhammadiyah berhak mendapatkan nafkah dalam ukuran kewajaran (sesuai ketentuan yang berlaku) yang disertai dengan sikap amanah dan tanggungjawab akan kewajibannya. Untuk itu setiap pimpinan persyarikatan hendaknya membuat tata aturan yang jelas dan tegas mengenai gaji tersebut dengan dasar kemampuan dan keadilan;
  8. Pimpinan amal usaha Muhammadiyah berkewajiban untuk melaporkan pengelolaan amal usaha yang menjadi tanggung jawabnya, khususnya dalam hal keuangan/kekayaan kepada pimpinan persyarikatan secara bertanggung jawab dan bersedia untuk diaudit.
  9. Pimpinan amal usaha Muhammadiyah harus bisa menciptakan suasana kehidupan Islami dalam amal usaha yang menjadi tanggung jawabnya dan menjadikan amal usaha yang dipimpinnya sebagai salah satu alat dakwah maka tentu saja usaha ini menjadi sangat perlu agar juga menjadi contoh dalam kehidupan bermasyarakat;
  10. Karyawan amal usaha Muhammadiyah adalah warga (anggota) Muhammadiyah yang dipekerjakan sesuai dengan keahlian atau kemampuannya. Sebagai warga Muhammadiyah diharapkan karyawan mempunyai rasa memiliki dan kesetiaan untuk memelihara serta mengembangkan amal usaha tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama. Sebagai karyawan dari amal usaha Muhammadiyah tentu tidak boleh terlantar dan bahkan berhak memperoleh kesejahteraan dan memperoleh hak-hak lain yang layak tanpa terjebak pada rasa ketidakpuasan, kehilangan rasa syukur, melalaikan kewajiban dan bersikap berlebihan;
  11. Seluruh pimpinan dan karyawan atau pengelola amal usaha Muhammadiyah berkewajiban dan menjadi tuntutan untuk menunjukkan keteladanan diri, melayani sesama, menghormati hak-hak sesama, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi sebagai cerminan dari sikap ihsan, ikhlas, dan ibadah;
  12. Seluruh pimpinan, karyawan, dan pengelola amal usaha Muhammadiyah hendaknya memperbanyak silaturahim dan membangun hubungan-hubungan sosial yang harmonis (persaudaraan dan kasih sayang) tanpa mengurangi ketegasan dan tegaknya sistem dalam penyelenggaraan amal usaha masing-masing;
  13. Seluruh pimpinan, karyawan, dan pengelola amal usaha Muhammadiyah selain melakukan aktivitas pekerjaan yang rutin dan menjadi kewajibannya juga dibiasakan melakukan kegiatan-kegiatan yang memperteguh dan meningkatkan taqarrub kepada Allah dan memperkaya ruhani serta kemuliaan akhlaq melalui pengajian, tadarrus serta kajian al-Qur’an dan sunnah , dan bentuk-bentuk ibadah dan mu’amalah lainnya yang tertanam kuat dan menyatu dalam seluruh kegiatan amal usaha Muhammadiyah.


Sumber: Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2000), h. 76-80.

Diambil dari: http://www.khittah.co/13-hal-yang-perlu-diketahui-tentang-amal-usaha-muhammadiyah/4847/